Amas Tadjuddin : “Pentingnya Kepemimpinan Nasional Dari Kalangan Santri”

KH Mahmudi, sambutan selamat datang selaku pimpinan Ponpes al Mubarok

Pentingnya kepemimpinan nasional dari kalangan santri

pernyataan tersebut menjadi tema utama pada dialog ulama se Banten yang diprakarsai oleh ponpes Al Mubarok Kota Serang dengan Multaqo Nusantara sebuah lembaga nirlaba yang mempelopori pentingnya pemimpin naaional berasal dark kalangan umat islam.

Kegiatan Dailaog tersebut berlangsung di aula Ponpes al Mubarok (25/3) dihadiri 250 peserta meliputi para ulama, tokoh ormas, pimpinan pondok pesantren se Banten.

Hadir sebagai pembicara utama DR KH As’ad Said Ali (mantan Waka BIN), sslanjutnya berturut turut menyampaikan pemaparan DR KH M Ali Abdillah (MUI Pusat), KH AM Romly (MUI Banten), dan DR KH Wawan Wahyudin (Akademisi).

Amas Tadjuddin bersama narasumber dan peserta

Amas Tadjuddin selaku pemandu acara dalam simpulan notulensinya menyatakan bahwa umat Islam yang menjadj penduduk terbesar di Indonesia sangat wajar jika menghendaki pemimpin nasional (Presiden dan Wakil Presiden) berasal dari kalangan umat islam, dan itu harus diperjuangkan sesuai mekanisme konstitusi yang berlaku, oleh karena itu umat islam yang mayoritas ini harus cerdas memilih presiden dan wakil presiden mendatang beragama Islam dan merepresentasikan umat islam.

Untuk para ulama yang hadir setuju mulai saat ini untuk turun langsung memberikan pencerahan kepada masyarakat sebagai edukasi politik agar menjadi pemilih yang cerdas menentukan kepemimpinan nasional dari kalangan umat islam.

Amas Tadjuddin bersama narasumber dan para kiyai

Pun demikian Amas Tadjuddin menegaskan bahwa kepemimpinan di daerah yang akan dilaksanakan serentak pada bulan Juni nanti, khususnya di Kota Serang, masyarakat muslim harus bersatu memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang memiliki komitmen memajukan Kota Serang Madani.

Diakui Amas Tadjuddin yang juga selaku Sekretarks Umum MUI Kota Serang, bahwa pada saat partai politik memilih dan mengusung paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota tidak ada yang meminta pertimbangan masyarakat muslim secara individu maupun melalui ormas ormas islam tentang siapa yang cocok menjadi paslon.

Akan tetapi setelah paslon didaftarkan ke KPU, maka seluruh pimpinan parpol dan tim sukses yang dibentuk untuk kepentingan pemenangan berlomba lomba mendatangai dan berjualan menawarkan paslonya kepada kiyai, ulama, pimpinan ormas, pimpinan pondok pesantren hingga kawasan kuburan nan sepi sekalipun didatangai demi sebuah kemenangan paslon, ini artinya memandang rendah dan tidak dianggap penting pendapat para ulama kecuali pertimbangan picisan semata mata.

Tokoh perempuan sebagai peserta

Pada bagian akhir, Amas Tadjuddin mengajak seluruh umat islam untuk memilih presiden, wakil presiden, gubernur, wakil gubernur, wali kota dan wakil wali kota dari kalangan umat islam. (bt)