Anak Tani Ingin Jadi Perwira Polisi

Beritatransparansi.com, SERANG – Ratusan sarjana akan bertarung memerebutkan 75 kursi sebagai perwira polisi. Setiap orang memiliki kesempatan. Bahkan, anak seorang petani sekalipun. Kamis (2/3) pukul 13.00 WIB, Gedung Serba Guna (GSG) Mapolda Banten sudah terisi oleh tamu undangan. Kursi para tamu dibagi dua menghadap panggung satu meter. Mereka diundang khusus oleh panitia daerah Seleksi Penerimaan Perwira Polisi Sumber Sarjana (SP3SS) Polda Banten. Sebelah kanan diisi oleh 34 orang berbaju putih dan bercelana hitam.

 

Mereka adalah 34 orang sarjana dari 37 sarjana yang telah dinyatakan lulus pada pemeriksaan berkas seleksi penerimaan perwira polisi. Senyum tipis terlihat dari wajah para sarjana berbagai bidang ilmu itu. Duduk pada barisan kursi sebelah kiri adalah keluarga para peserta. Puluhan sarjana dari banten ini akan bersaing dengan ratusan sarjana dari seluruh indonesia. Cuma 75 sarjana dengan nilai seleksi terbaik yang berhak mengikuti pendidikan selama 6 bulan di Akpol, Magelang, Jawa Tengah.

 

Sedikitnya, jatah penerimaan perwira polisi dari sumber sarjana ini, memungkinkan munculnya cara-cara curang. Atau digunakan pihak yang mencoba peruntungan dengan berpura-pura menjadi dewa penolong buat para peserta. Dengan uang pelicin, dewa penolong itu akan menjanjikan peserta diterima sebagai perwira polisi. Saat itu, peserta dan keluarganya diberikan peringatan dini. Pakta integritas harus ditandatangani. Yakni, mengikuti seleksi penerimaan perwira polisi secara jujur.

 

Pakta integritas memang bukan jaminan, tapi melegakan bagi peserta berkantong cekak. Optimis bakal diterima tanpa embel-embel uang pelicin juga dirasakan Muhammad Jakaria. Duduk di kursi paling belakang barisan peserta, ia terlihat serius menyimak pemaparan Karo SDM Polda Banten Kombes Andi Sahirul Taufik.

 

“Mohon, jangan percaya. Bila ada yang menawarkan atau menjanjikan dapat meluluskan anak bapak ibu. Pasti banyak yang menawarkan. Dicari nomor nelpon ibu bapak, akan telepon saya temannya, kapolda, kabid dokes, kalau ada itu, bapak pancing dia, nanti kita hubungi polres setempat,” terang Andi saat memberikan pengarahan.

 

Ucapan perwira menengah polisi itu, menepis keraguan alumnus Fakultas Hukum Unis Syekh Yusuf Tangerang. Ia yakin dapat lulus dengan kemampuan sendiri, tanpa harus mengeluarkan uang pelicin. Di seberang kiri, juga duduk paling belakang, nampak serius menyimak. Lelaki berkulit hitam dan berpeci hitam sebentar-bentar menganggukkan kepala.

 

Lelaki paruh baya itu adalah Misbah, ayah kandung Jakaria. “Bapak saya tani sawah. Numpang di tanah punya perusahaan dekat rumah,” kata pemuda asal Desa Sukamanah, Kecamatan Reja, Kabupatan Tangerang itu.

 

Putra bungsu dari 5 bersaudara hasil pernikahan Misbah dan Kapria, itu sejak SMA memang ingin menjadi polisi. Sayang, keinginannya mendaftar bintara polisi usai lulus SMA ditolak sang ibunda. Jakaria akhirnya memutuskan kuliah. Saat kuliah, ia harus membantu kakak kandungnya berjualan tahu di Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

 

Dini hari Jakaria sudah berada di pasar dan baru pulang pagi hari. Sore hari, Jakaria baru berangkat ke kampus. “Kakak yang bantu uang kuliah dan jajan,” ucapnya. Keinginannya menjadi polisi masih tidak hilang. Seusai menamatkan kuliah September 2016, ia membulatkan tekadnya mendaftar polisi. Persiapan fisik, lari, pushup dan olahraga lainnya dilakukan. “Sekarang udah boleh. Sebelum daftar, cuci kaki ibu ama bapak, minta ridho,” kata lelaki kelahiran April 1996 itu.

 

Harapan Jakaria tidak berlebihan. Jenderal Sutarman jadi contohnya. Kapolri ke-21, itu lahir dari pasangan petani. Orangtuanya bernama Pawiro Miharjo dan Samiyem, berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Sebagai anak seorang petani juga, Jakaria sadar cita-citanya hanya disandarkan pada kemampuannya. “Kalau nanti gak lulus, saya mau daftar Prajurit karir TNI,” tutupnya. (Yusa)

Beri rating artikel ini!